Jumat, 13 Maret 2015

RASA

Terimakasih untuk segala rasa.
Meski seharusnya tak pantas ada.
Hadir untuk menguji makna setia.
Jangan paksa aku dengan iba
Karena ku yakin tak akan bisa
Menatap sepasang mata yang berkaca.
Saat harus menggenggam luka.
Amuntai, 12 Maret 2013

Rabu, 25 Februari 2015

Selamat Ulang Tahun Kekasih

Meski saat ini ku tak disisimu. Namun izinkan tulisan ini mewakili hadirku.
Kekasih...
Seiring bertambahnya waktu,
Bertambah pula masa kebersamaan kita.
Hal terindah bagiku adalah ketika masih diberi kesempatan untuk hidup bersamamu.
Terimakasih untuk segala pengorbanan yang telah kau berikan.
Terimakasih untuk segala kesetiaan yang kau jalani
Terimakasih telah rela menerima segala keluh kesahku disaat aku ingin didengarkan
Terimakasih telah tulus menerimaku dengan segala kekurangan dan kelebihanku.
Harusnya banyak yang akan kau terima dariku atas segala yang kau berikan padaku.
Aku belum bisa memberimu istana yang megah.
Aku belum bisa memberimu mobil mewah
Aku belum bisa memberimu perhiasan yang indah.
Tapi aku masih punya cinta.
Ku masih punya setia
Kekasih...
Dalam bertambahnya usia
Ku berharap Allah masih mengizinkanku,
Menikmati keindahan senyummu
Merasakan kelembutan sikapmu
Merasakan nikmatnya masakan yang kau suguhkan sesederhana apapun.
Menikmati segelas teh/kopi di sela-sela kepenatanku
Menyaksikan setiap lambaian tanganmu ketika melepas pergiku.
Kekasih..
Ku tak berharap kau setenar wanita-wanita penakluk dunia.
Ku tak berharap kau sesempurna Cleopatra yang kecantikannya membius semua pria.
Ku ingin kau tetap menyentuhku dengan hangat ketika membangunkanku.
Ku ingin kau tetap menjadi ibu yang disayang dan dikagumi anak-anakku.
Ku ingin kau tetap menyertakanku dalam setiap doa-doamu.
Ku ingin kau tetap menjaga batas-batasmu sebagai wanita muslimah.
Ku ingin kau tetap setia mendengar segala cerita duka maupun bahagiaku.
Ku ingin kau menjadi bidadari surgaku kelak.
Ah.. begitu banyak yang kuminta darimu.
Sungguh tak sebanding dengan apa yang kau terima dariku.
Kekasih...
Di hari ulang tahunmu ini
Tak ada kado yang dapat kuberikan padamu.
Hanya seuntai do'a yang dapat terucapkan.
Semoga di usia yang tersisa, keberkahan dan kebahagiaan selalu menyertaimu.
SELAMAT ULANG TAHUN KEKASIHKU.

Sabtu, 24 Januari 2015

Kenapa

Wah, mulai tajam nih. "Kok orang Indonesia banyak yang tidak pakai kerudung?" Itulah pertanyaan yang dilontarkan oleh anak saya yang duduk di kelas 1 SD. Lha, saya harus menjawab apa? Saya mau menjawab, "Kan orang Indonesia banyak yang laki-laki juga". Tapi sepertinya bukan itu jawaban yang diinginkannya. Atau saya jawab saja, "Ini masalah hidayah anakku". Tapi apakah anak yang baru berumur tujuh  kali lebaran haji mengerti soal hidayah? Kalo Hidayah teman sekelasnya mungkin dia tau.
Sepertinya pertanyaan itu lebih layak ditujukan kepada kita, para suami dan orang tua  yang membiarkan dan mengamini isteri dan anak-anak  kita melanggar aturan Allah. Bukan hanya mengamini, kita bahkan mendukung, membiayai, menyuruh, mencontohkan, dan membiasakan mereka untuk selalu hidup di luar jalur aturan agama. Lihat saja, toko-toko yang menjual fashion minim kain lebih banyak diserbu pembeli ketimbang toko yang menjual busana muslimah.
Inilah pentingnya menanamkan nilai-nilai agama sejak dini. Saya yakin pertanyaan di atas tidak akan muncul kalau konsep tentang menutup aurat bagi muslimah belum ada di kepala anak. Berapa banyak waktu dan biaya yang kita gunakan dengan sengaja untuk menanamkan nilai-nilai agama kepada anak-anak kita? Sekarang coba hitung ulang, waktu dan biaya yang telah kita keluarkan dengan tidak sengaja untuk membiasakan anak durhaka kepada Allah. Misalnya dengan membelikan pakaian terbuka aurat, atau  media (TV, Smartphone) yang bisa membahayakan anak kita kalau tidak dikontrol dengan baik. Dari sanalah mereka belajar pergaulan bebas, belajar kekerasan, belajar cara berpakaian dan lain sebagainya.
Dengan filter nilai agama saja kita dan anak-anak kita keteteran menghadapi gempuran berbagai informasi dan nilai-nilai yang masuk setiap detiknya. Apakah lagi tanpa pertahanan sedikit pun.
Memang ini bukanlah tugas yang mudah. Tapi ini adalah kewajiban kita. Ingin jadi apa anak-anak kita nanti, peran kita saat ini turut andil di dalamnya.

Jumat, 17 Oktober 2014

KARAKTER BUKAN HANYA DI BUKU

Biasanya anak saya yang kelas 1 Sekolah Dasar diantar ibunya ke sekolah. Karena suatu keperluan, hari ini saya yang mengantarnya ke sekolah. Ini adalah kali kedua saya mengantar. Saat mengantar pertama kali saya langsung balik setelah si kecil bersalaman dan mengucap salam. Sehingga tidak sempat memperhatikan keadaan di lingkungan sekolah.
Jam di tangan saya menunjukkan pukul 07.15 wita, saat kami tiba di depan sekolah yang terbilang sederhana ini. Setelah bersalaman anak saya meminta uang kepada saya. "Lho, bukankah sekolah tidak memperbolehkan siswa membawa uang jajan?" Tanya saya heran. Tanpa menjawab dia menunjuk sebuah kotak kaca yang terdapat di dekat meja guru piket. Oh, akhirnya saya mengerti, ternyata uang tersebut digunakan untuk membiasakan siswa bersedekah harian. Sehabis mengucap salam, anak saya berjalan menuju ke arah meja piket. Ternyata setiap siswa dan guru yang datang akan menuju ke meja piket untuk mengisi daftar hadir dan bersedekah sukarela.
Saya mengurungkan niat untuk langsung balik karena ada pemandangan yang cukup menarik perhatian saya. Di dekat meja itu ada empat orang ibu guru dengan kerudung panjangnya. Anak saya menyebutnya 'Ustadzah. Dengan senyum yang selalu mengembang di bibir mereka, setiap siswa disambut dan dijawab salamnya dengan hangat. Ah, menyejukkan sekali.
Pandangan saya beralih ke depan kelas. Di depan pintu masuk setiap kelas telah berdiri wali kelas yang juga siap menyambut dan menjawab salam siswa dengan senyuman yang tulus. Siswa mengucap salam, bersalaman, masuk kelas untuk meletakkan tas lalu kembali keluar kelas. Di halaman pun, setiap siswa yang baru berpapasan dengan guru akan mengucapkan salam dan bersalaman. Hmm, pagi yang indah.
Saya menghela nafas dalam-dalam. Ternyata ini rupanya salah satu faktor penyebab perubahan perilaku anak saya dalam tiga bulan terakhir. Dari sikapnya yang emosional menjadi lebih lembut dan terkendali. Pernah suatu kali dia keceplosan menyebut kata 'burit' (maaf, artinya 'bokong'). Cepat-cepat dia mengucap istighfar. Katanya kalau di sekolah dia akan mendapat poin. Kami juga kerap tersenyum pahit ketika dia mengingatkan berdoa pada saat makan dan minum, atau menegur kakak atau sepupunya yang makan atau minum berdiri. Kalau sebelumnya kegiatan pagi yang paling menguras emosi ibunya adalah ketika membangunkan dan menyuruhnya mandi pagi. Alhamdulillah sekarang hal itu sudah jarang terjadi, bahkan paketnya ditambah dengan melaksanakan shalat subuh meskipun belum berjamaah.
Apa yang bisa saya ambil hikmah dari semua ini? Ternyata karakter tidak cukup hanya ada di kurikulum dan di buku. Penanaman karakter perlu kerja keras dan kerja ikhlas. Perlu keteladanan di setiap lini, baik rumah tangga, sekolah, masyarakat, dan pemerintah. Kalau karakter cuma ada di buku, maka yang akan kau dapatkan hanyalah perubahan semu.