Rabu, 08 Agustus 2012

Profesi Guru di Mata Guru Pesimis dan Optimis

 Profesi di  mata Guru Pesimis
Mars  Nasib " GURU"  :
-Berhasil dalam tugas sudah tradisi
-Tak berhasil  sanksi menanti
-Loyalitas Harga Mati
-Tidak loyal di Mutasi
-Pulang cepat di Marahi
-Datang cepat tak dihargai 
-Sertifikasi jam tak mencukupi dikebiri
-Hidup kaya diCurigai
-Kalau miskin dikatakan salah sendiri
-Mau dilantik mesti usaha sana-sini
-Potongan Bank dan Koperasi tiap bulan sudah menanti
-Naik gaji cuma janji..
-Baru menikmati hasil sertifikasi ada jadwal uji kompetensi.. Ya nasiib mengapa harus begini...

Profesi di Mata Guru Optimis
Tak perlu juga terlalu meratapi diri.
Tujuan UKG untuk pembinaan di kemudian hari.
Wajar saja tunjangan diterima diiringi peningkatan kompetensi.
Relakah kita menikamati sesuatu, tapi nurani kita dustai?
Jadikan UKG sebagai alat instropeksi diri.
Agar profesi GURU lebih bermartabat dan dihargai.
Bukan sbagai profesi yang dicurigai dan sumber iri.
Guru Profesional akan menjadikan bangsa ini lebih mandiri.
Dan menjadi bangsa yang lebih berarti, memiliki harga diri.
Di antara bangsa-bangsa yang ada dibelahan bumi ini.
Bagiku guru bukan hanya sekadar Profesi.
Tapi juga sebuah Tugas Suci.

Senin, 30 Juli 2012

PLPG, Sulit atau Mudah?

sumber foto: dikdas.kemdikbud.go.id
Alhamdulillah, selesai juga perjuangan selama 10 hari dalam menjalani PLPG (Pendidikan dan Latihan Profesi Guru) Rayon 17 Universitas Lambung Mangkurat Tahun 2012. Awalnya sempat khawatir juga sih, apalagi di awal-awal angkatan terdengar kabar duka yang menimpa rekan guru yang mengikuti diklat ini sampai akhirnya meninggal dunia. Meskipun pemicunya bukan semata-mata kegiatan PLPG tapi tetap membuat dag dig dug jantung kawan-kawan guru yang lain.
Apakah sistem pelatihan yang diterapkan di PLPG sangat berat? Jawabannya bisa ‘Ya’ bisa pula ‘Tidak’. PLPG tahun ini bisa dianggap berat karena harus melalui beberapa tahap seleksi. Diawali dari seleksi administrasi berupa persyaratan umur, masa kerja, kualifikasi akademik, serta beban kerja mengajar. Setelah itu harus menghadapi seleksi berikutnya dengan mengikuti Uji Kompetensi Awal ( UKA ) yang akhirnya mengeleminasi hampir 50 ribu guru di seluruh Indonesia. Baru akhirnya bisa mengikuti PLPG.
Perjuangan akan semakin berat kalau guru yang lolos ke PLPG tidak memiliki persiapan yang memadai dalam menghadapi pelatihan ini. Dua dari empat kompetensi guru mendominasi pelatihan ini. Yakni kompetensi pedagogik dan kompetensi profesional. Bagi guru yang memang memiliki kompetensi profesional yang handal, maka PLPG ini malah menjadi penambah wawasan dan pengetahuan untuk meningkatkan profesionalismenya.
Memang demikian adanya, kalau kita ingin meningkatkan kualitas penghargaan orang lain terhadap kita baik berupa materi maupun hal lainnya maka pantaskanlah diri kita untuk mendapatkannya dengan cara meningkatkan kualitas diri dan profesionalisme.

Minggu, 29 Juli 2012

Status Binatang di Facebook


 Mau berbagi nih, ini adalah status yang lumayan membuat aku tersenyum ketika membacanya. Jadi kepikiran deh untuk berbagi dengan agan-agan yang berkunjung ke blog ini.  Status facebook ini adalah milik 'Pengetahuan Tiada Batas'
Selamat tersenyum ya..
Bayangin kalau binatang pada punya akun Facebook, kira-kira statusnya kaya gini kali yaaa...
Anjing pudel     :Nunggu di jemput majikan, mo ke salon neeh...
Kecoa              : Baru aja slamet dari injekan maut...
Sapi                 : HuH sebel susuku di raba-raba lagi oleh majikanku, dikira gw jablay apa, damn!!
Kucing             : Anak gw yg ke-7 barusan nanya sapa bapaknya, gw bingung mau jwb apa, gw sendiri lupa bpknya siapa...
Nyamuk          : Gw positif HIV AIDS, gara2 salah isep, hiks...
Ayam              : Teman2 klo besok gw ga update, berarti gw di KFC, luv u all... :'(
Cumi Cumi      : Abis isi ulang tinta neeh...
Babi                : Gw difitnah nyebarin flu, sialan...
Giliran kutu      : salah masuk rambut nih, kok bau pesing!
Kambing          : Jangan keluar rumah friends, bentar lg Idul Adha...
Babi komen status Kambing    : untung gw haram
Kambing bales komen             : Abis Idul Adha khan Imlek bro, lo lupa?.

Jumat, 08 Juni 2012

Jangan Ingin Masuk Surga Sendirian!!


Kalau dilihat kondisi keberagamaan dewasa ini cukup menggembirakan. Majelis-majelis taklim menjamur di setiap daerahnya dengan jemaah pengajian yang membludak. Sebagian jemaah rela menempuh perjalanan puluhan bahkan ratusan kilometer untuk mendatangi pengajian. Hal lain yang juga cukup menggembirakan adalah menjamurnya layanan jasa tour dan travel yang melayani ummat muslim untuk melaksanakan haji plus dan ibadah umrah. Selain dapat meningkatkan geliat roda perekonomian, hal ini juga menunjukkan masih tingginya nilai religi yang dipegang oleh masyarakat kita. Daripada rezki yang diberikan Allah digunakan untuk pesiar ke Bali atau ke Singapura misalnya, mereka lebih memilih untuk menggunakannya sebagai ibadah sekaligus wisata. Dari sinilah muncul istilah wisata religi.
Tapi apakah kualitas keberagamaan kita sudah menjamah ranah sosial? Ataukah hanya sebatas rutinitas ibadah yang bersifat individualistis antara hamba dengan Sang Pencipta? Padahal dalam Islam secara tegas menjelaskan bahwa kualitas ibadah secara sosial jauh lebih tinggi dibandingkan ibadah individu. Misalnya saja shalat yang dilakukan secara berjamaah 27 kali lebih baik dari shalat yang dilakukan sendirian.
‘Jangan ingin masuk surga sendirian’ Islam mengajarkan kepada kita untuk ‘amar ma’ruf nahi munkar’ (mengajak menuju kebaikan dan mencega perbuatan munkar) itu artinya kita dianjurkan untuk tidak enak sendirian dan membiarkan saudara kita menderita.
Mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran bukan hanya dilakukan secara lisan tapi juga dengan perbuatan. Bagi sebagian kita yang diberi  amanah berupa kekuasaan/wewenang, amar ma’ruf nahi munkar dapat dilakukan melalui kekuasaan dan wewenangnya. Nah, bagi sebagian kita yang diberi Allah kelebihan rezeki berupa materi, mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran dapat kita lakukan dengan harta yang kita miliki.
Ironisnya, ketika sebagian dari kita setiap tahunnya selalu berangkat umrah dengan menghabiskan biaya puluhan hingga ratusan juta rupiah. Sementara di sekeliling kita masih banyak kita dapati anak-anak kurang mampu yang memerlukan uluran tangan. Karena keterbatasan ekonomi mereka terpaksa putus sekolah dan turun ke jalan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Sering kita mendengar banyak anak cerdas dari keluarga tidak mampu yang terpaksa tidak bisa kuliah karena tidak ada biaya. Mereka terpaksa bekerja sejak dini membantu orang tuanya.
Kalau anank-anak tidak mampu tadi berhenti sekolah dan mereka bekerja secara halal tentu tidak mengapa. Tapi kalau mereka melakukan tindakan kriminal yang bertentangan dengan hukum Allah dan hukum negara siapa yang patut dipersalahkan? Apakah kita yang diberi kelebihan rezeki tidak ikut andil?
Wahai saudaraku biaya umrah yang kita keluarkan untuk satu kali umrah sebenarnya mampu membiayai pendidikan seorang anak baik SMP, SMA, maupun pondok pesantren selama tiga tahun bahkan lebih dan akan menjadi amal jariah yang akan selalu mengalir meski kita telah tiada.
Lantas, manakah yang lebih baik? Umrah setiap tahun atau membiayai pendidikan anak-anak kurang mampu? Yang lebih baik adalah UMRAH TIAP TAHUN dan MEMBIAYAI PENDIDIKAN ANAK-ANAK KURANG MAMPU. :)
Wallahu a’lam.