Kamis, 19 Maret 2015

Memilih untuk Tidak Meminta


Suatu siang di pusat Kota Amuntai. Sepulang dari kerja, saya singgah di pinggir jalan di seberang Taman Putri Junjung Buih tempat pedagang buah menggelar dagangannya. Saat saya sedang asyik memilih buah Pampakin*, seorang kakek mendekat sambil menuntun sepeda butut. Di keranjang depan sepedanya terdapat beberapa buah bakul* bamban dan diboncengannya terdapat setumpuk kipas rotan yang jumlahnya mungkin hanya puluhan. Mungkin kakek ini seorang pedagang bakul dan kipas keliling.
Agak lama juga si kakek memandangi saya dan beberapa orang pembeli memilih buah yang akan dibeli. Sampai akhirnya beliau bertanya,
“Barapa sabigi pampakin?” (Berapa harga sebuah pampakin?).
Saya yang kebetulan berada dekat dengan beliau menjawab,
“Sepuluh ribu Kai ai” (Sepuluh ribu kek).
“Umai lih..” ujar si kakek agak bergumam. (Saya tidak bisa menerjemahkan ucapan kakek ini ke dalam bahasa Indonesia. Ungkapan ini kurang lebih bermakna keluhan untuk konteks ini)
Kutatap wajah si Kakek. Seperti ada keraguan dan kebingungan terpancar dari raut wajahnya. Naluri saya reflek menerka-nerka apa yang dipikirkan si kakek. Mungkin beliau menganggap harganya terlalu mahal, atau uang yang dimiliki tidak cukup untuk membeli pampakin tersebut. Atau mungkin juga uangnya cukup, tapi masih ada keperluan yang lebih mendesak. Wallahu a’lam.
Sambil terus memandangi pampakin yang ada, akhirnya saya selesai membayar beberapa buah pampakin yang saya beli. Kemudian saya memberikan sebuah pampakin kepada Kakek tadi.
“Ini gasan Pian Kai ai” (Ini untuk Kakek..)
“Berapa haraganya?” (Berapa harganya?) ujar si Kakek.
“Kada usah dibayari gin. Ulun mambari Pian” (Tidak usah di bayar, ini untuk Kakek)
“Umaa, bauntung batuahnya ikam Nak. Tarima kasih Nak lah”  ujar beliau sambil menerima pampakin tersebut. Saat itu saya merinding mendengar ucapan beliau. Tapi yang membuat saya semakin merinding adalah kejadian berikutnya.
“Tolong buka akan Nak lah, aku handak banar sudah mamakan” (Tolong bukakan ya Nak, saya sudah ingin sekali) ujar si kakek. Benar saja setelah saya belah pampakin tersebut dengan pisau penjual, saat itu juga beliau memakan isi pampakin yang terbelah dengan lahapnya dan sisanya beliau masukkan ke dalam bakul yang ada di keranjang sepeda.
Ketika saya ingin beranjak pergi, kembali si kakek mengucapkan terimakasih dan mengulurkan tangan beliau untuk bersalaman. Saat diperjalanan saya baru terpikir, kenapa hanya satu buah yang saya berikan. Siapa tau beliau memiliki istri, anak, atau mungkin cucu yang sedang menunggu beliau membawakan sesuatu sepulang dari berjualan. Ah, rasanya saya ingin menangis.
Semoga dengan pengalaman ini saya bisa lebih bersyukur dengan nikmat yang diberikan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada saya selama ini. Betapa nilai sepuluh ribu yang kadang begitu tidak dianggap oleh kita, bisa memiliki arti yang sangat besar bagi orang lain.
Satu pelajaran berharga yang saya peroleh dari si kakek adalah, beliau memiliki harga diri untuk tidak meminta-meminta, meskipun keinginannya untuk makan buah pampakin begitu besar. Dan beliau lebih memilih bekerja di usia yang seharusnya beristirahat daripada menjadi beban bagi orang lain.
*pampakin: sejenis buah durian yang warna kulit dan isinya berwarna kuning tua atau orange.
*bakul bamban : wadah yang terbuat dari tumbuhan bamban yang digunakan untuk mencuci beras oleh orang banjar.

Jumat, 13 Maret 2015

RASA

Terimakasih untuk segala rasa.
Meski seharusnya tak pantas ada.
Hadir untuk menguji makna setia.
Jangan paksa aku dengan iba
Karena ku yakin tak akan bisa
Menatap sepasang mata yang berkaca.
Saat harus menggenggam luka.
Amuntai, 12 Maret 2013

Rabu, 25 Februari 2015

Selamat Ulang Tahun Kekasih

Meski saat ini ku tak disisimu. Namun izinkan tulisan ini mewakili hadirku.
Kekasih...
Seiring bertambahnya waktu,
Bertambah pula masa kebersamaan kita.
Hal terindah bagiku adalah ketika masih diberi kesempatan untuk hidup bersamamu.
Terimakasih untuk segala pengorbanan yang telah kau berikan.
Terimakasih untuk segala kesetiaan yang kau jalani
Terimakasih telah rela menerima segala keluh kesahku disaat aku ingin didengarkan
Terimakasih telah tulus menerimaku dengan segala kekurangan dan kelebihanku.
Harusnya banyak yang akan kau terima dariku atas segala yang kau berikan padaku.
Aku belum bisa memberimu istana yang megah.
Aku belum bisa memberimu mobil mewah
Aku belum bisa memberimu perhiasan yang indah.
Tapi aku masih punya cinta.
Ku masih punya setia
Kekasih...
Dalam bertambahnya usia
Ku berharap Allah masih mengizinkanku,
Menikmati keindahan senyummu
Merasakan kelembutan sikapmu
Merasakan nikmatnya masakan yang kau suguhkan sesederhana apapun.
Menikmati segelas teh/kopi di sela-sela kepenatanku
Menyaksikan setiap lambaian tanganmu ketika melepas pergiku.
Kekasih..
Ku tak berharap kau setenar wanita-wanita penakluk dunia.
Ku tak berharap kau sesempurna Cleopatra yang kecantikannya membius semua pria.
Ku ingin kau tetap menyentuhku dengan hangat ketika membangunkanku.
Ku ingin kau tetap menjadi ibu yang disayang dan dikagumi anak-anakku.
Ku ingin kau tetap menyertakanku dalam setiap doa-doamu.
Ku ingin kau tetap menjaga batas-batasmu sebagai wanita muslimah.
Ku ingin kau tetap setia mendengar segala cerita duka maupun bahagiaku.
Ku ingin kau menjadi bidadari surgaku kelak.
Ah.. begitu banyak yang kuminta darimu.
Sungguh tak sebanding dengan apa yang kau terima dariku.
Kekasih...
Di hari ulang tahunmu ini
Tak ada kado yang dapat kuberikan padamu.
Hanya seuntai do'a yang dapat terucapkan.
Semoga di usia yang tersisa, keberkahan dan kebahagiaan selalu menyertaimu.
SELAMAT ULANG TAHUN KEKASIHKU.

Sabtu, 24 Januari 2015

Kenapa

Wah, mulai tajam nih. "Kok orang Indonesia banyak yang tidak pakai kerudung?" Itulah pertanyaan yang dilontarkan oleh anak saya yang duduk di kelas 1 SD. Lha, saya harus menjawab apa? Saya mau menjawab, "Kan orang Indonesia banyak yang laki-laki juga". Tapi sepertinya bukan itu jawaban yang diinginkannya. Atau saya jawab saja, "Ini masalah hidayah anakku". Tapi apakah anak yang baru berumur tujuh  kali lebaran haji mengerti soal hidayah? Kalo Hidayah teman sekelasnya mungkin dia tau.
Sepertinya pertanyaan itu lebih layak ditujukan kepada kita, para suami dan orang tua  yang membiarkan dan mengamini isteri dan anak-anak  kita melanggar aturan Allah. Bukan hanya mengamini, kita bahkan mendukung, membiayai, menyuruh, mencontohkan, dan membiasakan mereka untuk selalu hidup di luar jalur aturan agama. Lihat saja, toko-toko yang menjual fashion minim kain lebih banyak diserbu pembeli ketimbang toko yang menjual busana muslimah.
Inilah pentingnya menanamkan nilai-nilai agama sejak dini. Saya yakin pertanyaan di atas tidak akan muncul kalau konsep tentang menutup aurat bagi muslimah belum ada di kepala anak. Berapa banyak waktu dan biaya yang kita gunakan dengan sengaja untuk menanamkan nilai-nilai agama kepada anak-anak kita? Sekarang coba hitung ulang, waktu dan biaya yang telah kita keluarkan dengan tidak sengaja untuk membiasakan anak durhaka kepada Allah. Misalnya dengan membelikan pakaian terbuka aurat, atau  media (TV, Smartphone) yang bisa membahayakan anak kita kalau tidak dikontrol dengan baik. Dari sanalah mereka belajar pergaulan bebas, belajar kekerasan, belajar cara berpakaian dan lain sebagainya.
Dengan filter nilai agama saja kita dan anak-anak kita keteteran menghadapi gempuran berbagai informasi dan nilai-nilai yang masuk setiap detiknya. Apakah lagi tanpa pertahanan sedikit pun.
Memang ini bukanlah tugas yang mudah. Tapi ini adalah kewajiban kita. Ingin jadi apa anak-anak kita nanti, peran kita saat ini turut andil di dalamnya.