Berat sebenarnya meninggalkan sekolah yg selama 13 tahun telah memberi warna perjalanan karierku sebagai pendidik. Mengenal orang-orang yang mampu menjadi sahabat, motivator, dan keluarga bagiku. Kebersamaan, kekeluargaan, kebersahajaan begitu kental dalam komunikasi dan interaksi yang terjadi.
Saling memberi, diskusi, senda gurau mewarnai sela-sela aktifitas sebagai pendidik.
Beruntung pernah memiliki seorang pemimpin yang mampu mengayomi dan menjadi teladan. Sikap, keramahan, disiplin, semangat, kesederhanaan menjadi rutinitas kepemimpinan yang ditunjukkan kepada kami.
Beruntung memiliki sahabat-sahabat dengan berbagai karakter positif. Ceria, kalem, penuh humor, telaten, ikhlas, cekatan, blak-blakan, apa adanya (sampai-sampai tidak tergiur untuk memiliki hp sekalipun. Kkkk..), pandai membuat masakan yang wuiiih... menggugah selera, (Hiks.. jadi kangen dengan sambal terasi, rujak, gaguduh tiwadak, tumis mandai dan garinting sapat).
Ada satu kesamaan dari berbagai karakter yang berbeda, yakni kemauan untuk menjadi lebih baik. Walaupun harus bolak-balik nanya ketika ingin membuat presentasi, ketika ingin membuat akun facebook, bahkan bareng-bareng ngisi angket PADAMU, sampai-sampai operator sekolah Muhammad Midi harus keliling dari meja ke meja untuk melayani setiap pertanyaan.
Beruntung memiliki siswa-siswi yang unik. Yang menjadi ladang amal, pemantik kreatifitas, penguji kesabaran, pelepas kepenatan, dan pemacu semangat.
Siswa-siswa yang memiliki semangat luar biasa untuk menjadi pemenang. Meski dengan berbagai keterbatasan. Sekolah pinggiran kota, latar belakang sosial ekonomi, dan keterbatasan sarana. Ternyata tidak menyurutkan semangat mereka. Bahkan sayalah yang harus angkat tangan ketika mereka memintaku untuk memberi les yang terakhir di hari terakhir.
Terimakasih untuk semuanya yang telah banyak memberi untukku. Tak sebanding rasanya apa yang telah kuterima dengan apa yang dapat kupersembahkan.
Akhirnya, setiap kita harus memilih ketika diberi beberapa pilihan. Dan pilihan inilah yang harus kuambil dengan segala konsekuensinya.
(Coretan ini pun ternyata dipantik oleh komentar sahabat saya di sebuah statusku)
Senin, 04 Mei 2015
Terimakasih
Selasa, 14 April 2015
Sesak
Selalu saja
kesendirian ini menyesakkan dada.
Lebih sesak dari pada
duduk dalam ruang sempit yang penuh asap rokok
Bertarung melawan sepi
dengan senjata kesabaran
Sementara tajamnya
mata pedang kerinduan telah mengiris begitu dalam dinding hati
Tahukah engkau betapa
perihnya?
Lebih perih dari tak
pernah bertemunya rembulan dan sang mentari
Tapi, ada sisi indah
dari kerinduan
Ia dapat menajamkan
kelembutan rasa
Meski kadang
menumpulkan logika.
Mencurahkan bait-bait
puitis
Meski kadang
memunculkan egois
Bila rindu dan
kesendirian menyatu dalam jiwa yang sepi
Seorang pejantan
tangguh sekalipun, mendadak menjadi melankolis
(Amuntai, 14 April
2015)
Minggu, 22 Maret 2015
Hasil Foto Asus Zenfone 5
Kamis, 19 Maret 2015
Memilih untuk Tidak Meminta
Suatu siang di pusat
Kota Amuntai. Sepulang dari kerja, saya singgah di pinggir jalan di seberang
Taman Putri Junjung Buih tempat pedagang buah menggelar dagangannya. Saat saya
sedang asyik memilih buah Pampakin*, seorang kakek mendekat sambil menuntun sepeda
butut. Di keranjang depan sepedanya terdapat beberapa buah bakul* bamban dan
diboncengannya terdapat setumpuk kipas rotan yang jumlahnya mungkin hanya
puluhan. Mungkin kakek ini seorang pedagang bakul dan kipas keliling.
Agak lama juga si
kakek memandangi saya dan beberapa orang pembeli memilih buah yang akan dibeli.
Sampai akhirnya beliau bertanya,
“Barapa sabigi
pampakin?” (Berapa harga sebuah pampakin?).
Saya yang kebetulan
berada dekat dengan beliau menjawab,
“Sepuluh ribu Kai ai”
(Sepuluh ribu kek).
“Umai lih..” ujar si
kakek agak bergumam. (Saya tidak bisa menerjemahkan ucapan kakek ini ke dalam
bahasa Indonesia. Ungkapan ini kurang lebih bermakna keluhan untuk konteks ini)
Kutatap wajah si
Kakek. Seperti ada keraguan dan kebingungan terpancar dari raut wajahnya.
Naluri saya reflek menerka-nerka apa yang dipikirkan si kakek. Mungkin beliau
menganggap harganya terlalu mahal, atau uang yang dimiliki tidak cukup untuk
membeli pampakin tersebut. Atau mungkin juga uangnya cukup, tapi masih ada
keperluan yang lebih mendesak. Wallahu a’lam.
Sambil terus
memandangi pampakin yang ada, akhirnya saya selesai membayar beberapa buah
pampakin yang saya beli. Kemudian saya memberikan sebuah pampakin kepada Kakek
tadi.
“Ini gasan Pian Kai ai”
(Ini untuk Kakek..)
“Berapa haraganya?”
(Berapa harganya?) ujar si Kakek.
“Kada usah dibayari
gin. Ulun mambari Pian” (Tidak usah di bayar, ini untuk Kakek)
“Umaa, bauntung
batuahnya ikam Nak. Tarima kasih Nak lah” ujar beliau sambil menerima pampakin tersebut.
Saat itu saya merinding mendengar ucapan beliau. Tapi yang membuat saya semakin
merinding adalah kejadian berikutnya.
“Tolong buka akan Nak
lah, aku handak banar sudah mamakan” (Tolong bukakan ya Nak, saya sudah ingin
sekali) ujar si kakek. Benar saja setelah saya belah pampakin tersebut dengan
pisau penjual, saat itu juga beliau memakan isi pampakin yang terbelah dengan
lahapnya dan sisanya beliau masukkan ke dalam bakul yang ada di keranjang
sepeda.
Ketika saya ingin
beranjak pergi, kembali si kakek mengucapkan terimakasih dan mengulurkan tangan
beliau untuk bersalaman. Saat diperjalanan saya baru terpikir, kenapa hanya
satu buah yang saya berikan. Siapa tau beliau memiliki istri, anak, atau
mungkin cucu yang sedang menunggu beliau membawakan sesuatu sepulang dari
berjualan. Ah, rasanya saya ingin menangis.
Semoga dengan
pengalaman ini saya bisa lebih bersyukur dengan nikmat yang diberikan Allah
Subhanahu wa Ta’ala kepada saya selama ini. Betapa nilai sepuluh ribu yang
kadang begitu tidak dianggap oleh kita, bisa memiliki arti yang sangat besar
bagi orang lain.
Satu pelajaran berharga
yang saya peroleh dari si kakek adalah, beliau memiliki harga diri untuk tidak
meminta-meminta, meskipun keinginannya untuk makan buah pampakin begitu besar.
Dan beliau lebih memilih bekerja di usia yang seharusnya beristirahat daripada
menjadi beban bagi orang lain.
*pampakin: sejenis
buah durian yang warna kulit dan isinya berwarna kuning tua atau orange.
*bakul bamban : wadah
yang terbuat dari tumbuhan bamban yang digunakan untuk mencuci beras oleh orang
banjar.
Langganan:
Postingan (Atom)








