Maksud saya, telkomsel ingin membalas kesetiaan Anda yang minimal 3 tahun nggak ke lain hati. (Kalo saya udah lebih 10 tahun adem dengan telkomsel, walau kadang selingkuh dikit-dikit)
Selasa, 26 Januari 2016
Hanya untuk Orang-orang Setia : Internet Super Murah dari Telkomsel
Maksud saya, telkomsel ingin membalas kesetiaan Anda yang minimal 3 tahun nggak ke lain hati. (Kalo saya udah lebih 10 tahun adem dengan telkomsel, walau kadang selingkuh dikit-dikit)
Selasa, 08 Desember 2015
Pilkada
Di hari-hari menjelang kami menentukan pilihan
Senyummu begitu manis di mata
Janjimu terdengar merdu di telinga
Kau sapa kami meski sebelumnya kita tak saling kenal
Hari ini ada yang datang mengaku utusanmu
Membawakan kami oleh-oleh dan uang.
Dia bilang ini sebentuk silaturahmi dan saling membantu
Engkau membantu kami satu hari
Dan kami membantumu selama lima tahun
Tapi mengapa silaturahmi ini baru dibuat sekarang?
Bisakah kau yakinkan kami
Bahwa sikap manismu akan selalu ada
Ketika kami yang lebih banyak mengharapkan bantuanmu?
Atau jangan-jangan kami tak akan bisa lagi melihat senyum manismu karena kaca mobilmu yang tertutup rapat.
Ataukah oleh-oleh dan uang ini untuk membeli suara kami.
Karena kau tahu sebagian besar dari kami tak tahu dan sebagian lagi pura-pura tidak tahu dengan muslihatmu.
Meski kami perlu uangmu sekarang
Tapi kami lebih perlu pemimpin yang mampu menjamin agar listrik tak lagi byar pet.
Kami perlu pemimpin yang menjamin hukum tajam ke semua arah
Kami perlu pemimpin yang benar-benar melindungi kami.
(Sungai Raya, 8 Desember 2015)
Kamis, 03 Desember 2015
Aku Belajar
Aku belajar puitis
Meski tak pernah rangkai kata terdengar merdu
Aku belajar romantis
Meski setiap rayu bagai iris sembilu
Aku belajar merindu
Seperti erang pengembara yang dahaga
Aku belajar setia
Saat aku tak tahu seberapa ku setia.
Kandangan, 25 November 2015 (Dalam senyap malam)
Selasa, 20 Oktober 2015
Inilah
Inilah negeri
Dimana kami hanya bisa menghirup separuh nafas.
Inilah negeri dimana kami tak lagi bisa membedakan sejuknya pagi, teriknya siang, dan hangatnya petang. Semua kelam abu-abu.
Kami tak lagi bisa melihat indahnya senyum, karena bibir kami telah tertutup topeng berwarna warni.
Negeri dimana kami dipaksa untuk menikmati irama nafas bayi-bayi kami yang tersengal. Kami dipaksa menatap bahu mereka turun naik karena sesaknya dada.
Kami marah! Tapi pada siapa?
Pada asap yang tanpa pamit masuk ke dalam kamar hingga rongga dada kami?
Kami ingin menjerit, tapi jeritan kami masih kalah keras dibanding suara chainsaw yang meraung-raung menumbangkan hutan-hutan kami.
Kami ingin mengadu, tapi pada siapa? Pada cukong-cukong yang serakah melahap hektar demi hektar bumi hijau kami?
Kami ingin menangis, tapi air mata ini telah kering terkuras perihnya asap.
Kami sekarang hanya bisa berharap. Berharap ada kekuatan yang mampu menghalau kabut ini.
Entah kapan..
Entah siapa..
Kandangan, 20 April 2015





