Selasa, 24 Desember 2013

Penantian


foto: penanies.blogspot.com
Banjarmasin, 1 Nopember 1996



Telah kuterima suratmu. Perlahan bayang-bayang masa lalu kembali hadir dalam ingatanku.Saat engkau  nyatakan cinta untukku. Tahukah engkau, saat itu hatiku bagai disiram embun pagi. Ada kesejukan menjalari seluruh tubuhku. Hingga kelu lidahku untuk berucap dan bertutur. Waktu itu aku hanyut dengan perasaanku sendiri, hingga tak ada kata yang terucap sebagai kata pastiku untuk menerima cintamu.



Kalau saat itu aku tak menjawab cintamu, bukan berarti aku tidak suka padamu. Bukan berarti akau tak ingin kau titipkan hatimu padaku. Ingin aku bernaung pada teduh matamu yang didalamnya kutemukan pancaran kesetiaan.



Tapi, ingin kudengar darimu sekali lagi ucapan itu, agar benih cinta yang akan kau semaikan di relung hatiku tertanam kukuh, hingga menghasilkan bunga yang harum semerbak di taman kasihku.

Namun yang kuharapkan tak pernah kunjung tiba. Kau seakan menjauh dari hadapanku. Kehangatan yang kuharapkan darimu tiada kutemui. Yang kujumpai hanya sikap dinginmu. Kau bagai ingin menghindar dariku apabila ada persuaan. Hingga akhirnya kita dipisahkan oleh rentang jarak, tapi kepastian cinta darimu tak pernah kuperoleh.



Jarak yang memisahkan tiadalah akan memupus rasa cintaku padamu. Bahkan yang demikian memupuk perasaan rinduku padamu. Kubiarkan hatiku menabur harapan untukmu. Agar nanti bila suatu saat kau hadir untukku, akan kuhulurkan tali kasihku untukmu. Akan kusimpul erat hingga tak akan lepas dilebur gelombang.



Hari ke hari, mingu ke minggu, bulan berlalu menjadi tahun. Kau biarkan aku menunggu dalam ketidakpastian. “ Pungguk merindukan bulan”, demikianlah kiranya pepatah yang pantas untukku. Aku berharap dan terus berharap, mananti kau akan singgah dan berlabuh di dermaga hatiku.



Ada seberkas sesal melejit-lejit di hatiku. Kenapa dulu aku tak memberi kepastian kepadamu. Bahwa aku juga mencintaimu, bahwa cintamu tak bertepuk sebelah tangan. Inikah yang dinamakan harga diri ? Apakah aku terhina jika aku menyambut cintamu saat itu ? Ah…



Sampai saat kudengar kabar bahwa engkau telah titipkan hatimu pada yang lain. Dapat engkau bayangkan betapa luluh lantak hatiku. Kakiku terasa tak berpijak di bumi. Runtuh sudah istana harapan yang kubangun selama ini dengan segenap kesetiaanku. Kemana lagi kuserahkan hatiku yang telah remuk berkeping. Cinta suciku  yang kurawat  rapi dalam bilik hatiku dan hanya kubuka untukmu, dan tak kuizinkan yang lain menyentuhnya, ternyata hanya berbuah kesia-siaan.



Satu tahun bukanlah waktu yang singkat untuk memendam  kerinduan cinta dalam suatu penantian yang tak pasti. Tapi aku yakin bahwa engkau juga mencintaiku. Seperti yang kau katakan pada saat itu.



Berangsur-angsur kucoba untuk menghapus bayangmu dalam hari-hariku. Mungkin aku dapat mengaburkan wajahmu dari hatiku disaat aku larut dalam keseharianku. Tapi tak dapat kupungkiri, kala kesendirian datang, dirimu akan begitu jelas dalam lukisan hatiku. Karena tak ada lukisan yang paling indah dari lukisan yang ada dalam hati kita terhadap orang yang dikasihinya. Jelasnya tuturmu lebih jelas dari suara detak jam di tengah malam sunyi.



Suatu saat seseorang datang untuk melabuhkan hatinya padaku. Dengan hati yang masih berdarah kucoba mengumpulkan puing-puing harapan yang telah berserakan, walaupun aku tak  yakin akan mampu mencintainya sepenuh hati sebagaimana cintaku padamu. Tapi aku tak ingin menambah lagi satu hati yang terluka. Cukup aku saja yang merasakan sakitnya luka cinta, dan juga tak ada alasan yang kuat bagiku untuk menampik uluran tangannya.



Lalu mengapa sekarang harus begini keadaannya ? Setelah aku mulai mengayuh bahtera dan aku tak mungkin lagi untuk berpaling ? Engkau datang dengan segenap harapan yang engkau simpan untukku selama ini. Kiranya tak mungkin lagi aku merapat di tepian pantai hatimu, walaupun  hatiku sepenuhnya hanya untukmu. Hanya untukmu!


Kenapa engkau datang setelah sekian lama aku terombang-ambing dalam lautan ketidakpastian. Hatiku menggapai-gapai memohon huluran tali kasihmu. Tapi kau biarkan aku karam bersama harapan-harapanku.



Sekarang engkau timpai pula aku dengan perasaan sesal yang bertubi-tubi. Kukutuki diriku yang terlalu cepat mempercayai kabar yang ternyata tidak terbukti kebenarannya, yang akhirnya meruntuhkan harapanku dan harapanmu. Dan melenyapkan semua mimpi-mimpi kita.



Maafkan aku… Dua kali kukecewakan hatimu. Telah aku tambah luka yang ada di dadamu. Kuharap cintamu tak akan pupus padaku, seperti cintaku padamu. Bukankah cinta suci tak mempedulikan persuaan jasad ? Dan tidak selamanya cinta harus saling memiliki.



Terakhir, simpanlah namaku di hatimu, sebagaimana kusimpan namamu di hatiku. Sebagai tanda bahwa hatiku hanya untukmu.





Wassalam




Senin, 23 Desember 2013

PERIH

foto: putianggraini.wordpress.com

Aku tersungkur memeluk erat luka yang terus mengucurkan air mata. Entah hingga kapan perih ini kan terhenti. Apakah hingga setia ini pupus dimakan nestapa?
Mencoba bertahan dalam keyakinan yang mulai goyah. Tatapmu tak lagi mampu yakinkan hatiku. Karena tajamnya begitu dalam membuat gores luka.
Hidup di atas keping rasa yang berserakan. Mencengkram simpul demi simpul asa yang mulai koyak. Tertatih dalam tatapan nanar pada harapan yang kian pudar warnanya.
Tubuhku bergetar dalam diam. Hingga nafas satu demi satu melepas setiap aroma kehidupan.
(Amuntai, 23 Desember 2013)

Selasa, 10 Desember 2013

Rinduku adalah Rinduku Padamu

Rinduku adalah senja dengan semburat jingga di ufuk barat
Rinduku adalah deru ombak di tebing cadas
Rinduku adalah desau angin di dedaunan
Rinduku adalah rinai hujan di padang gersang
Rinduku adalah desah lelah sang pujangga kehabisan kata
Rinduku adalah ....
Rinduku padamu

                              Yogyakarta, 4 Desember 2013

Saya Butuh Cermin!!

Simulasi mengajar yang dilakukan salah seorang peserta diklat
Ada pembelajaran berharga yang saya dapatkan pada kegiatan simulasi mengajar hari ini. Selama ini saya merasa cara dan gaya mengajar saya sudah bagus. Tapi ternyata penilaian saya bersifat subyektif. Untuk menilai fisik saja sangat sulit dilakukan tanpa menggunakan cermin. Apalagi untuk menilai tingkah laku yang ditunjukkan.
Setelah melakukan simulasi pembelajaran yang dilakukan kurang lebih tiga puluh menit, dilakukan refleksi terhadap kegiatan tersebut. Disinilah kelihatan lubang-lubang yang harus saya benahi dalam pembelajaran.
Secara umum, semua komponen sudah dilengkapi oleh tim dalam kerja kelompok mulai dari RPP, media/alat peraga, dan instrumen penilaian yang ingin dilakukan. Ternyata itu saja tidak cukup. Selain RPP yang dibuat harus memperhatikan berbagai aspek, dituntut pula kepiawaian guru dalam penguasaan RPP, materi, komunikasi dan interaksi yang baik sehingga pembelajaran yang berlangsung sarat makna.
Dari hasil pengamatan rekan-rekan, ternyata kelemahan saya yang paling menonjol adalah terlalu mendominasi pembelajaran. Aktivitas yang seharusnya dapat dilakukan oleh siswa, sebagian masih diambil oleh guru.
Pelajaran berharga yang saya dapatkan hari ini adalah "Kita tidak mungkin menilai indahnya sebuah lukisan kalau kita sendiri berada di dalam kanvas"